1. Candi Prambanan
Candi Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia dan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Terletak di perbatasan antara Yogyakarta dan Jawa Tengah, candi ini dibangun sekitar abad ke-9 oleh dinasti Sanjaya dari kerajaan Mataram Kuno. Candi ini didedikasikan untuk Trimurti Hindu: Brahma (Dewa Pencipta), Wisnu (Dewa Pemelihara), dan Siwa (Dewa Penghancur), dengan candi utama yang didedikasikan untuk Dewa Siwa.
Struktur dan Arsitektur
Candi Prambanan terdiri dari tiga candi utama yang besar:
- Candi Siwa (tinggi 47 meter, candi tertinggi di kompleks),
- Candi Brahma, dan
- Candi
Di sekelilingnya terdapat beberapa candi kecil atau candi perwara, yang dipercaya sebagai tempat pemujaan para dewa-dewi kecil atau untuk persembahan. Candi ini dihiasi dengan relief yang sangat indah, menampilkan kisah-kisah dari epik Ramayana dan kisah para dewa-dewi Hindu.
Link YouTube : https://youtu.be/whpH_-Mv7v4?si=Cjgnful3uYoiKqSw
2. Candi Dieng
Candi Dieng terletak di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Candi Dieng memiliki arsitektur Jawa bagian utara yang hampir mirip dengan Candi Gedong Songo dan Candi Badut yang ada di Jawa Timur serta Candi Cangkuang dan Candi Bojongmenje Jawa
Barat. Ciri khas arsitektur tersebut memiliki gaya sederhana, sedikit ornamen dan berukuran yang relatif kecil.
Prasasti yang ditemukan di wilayah tersebut mengungkapkan bahwa kompleks Candi Dieng sudah berdiri sejak abad ke-8 dan ke-9 Masehi. Pembangunan Candi Dieng dilakukan sebagai bentuk penghormatan masyarakat kepada Dewa Siwa dan Sati Siwa, istri dari Siwa.
Dari total 21 bangunan yang ada di kompleks Candi Dieng, bangunan tersebut terbagi menjadi 5 kelompok. Empat kelompok pertama terdiri dari situs seremonial atau tempat pemujaan, yaitu Kelompok Candi Arjuna (Pandawa Lima), Kelompok Candi Gatotkaca, Kelompok Candi Bhima, Kelompok Candi Dwarawati/Parikesit, dan Kelompok Candi Magersari.
Sementara itu, kelompok kelima di kompleks Candi Dieng merupakan area yang difungsikan sebagai tempat tinggal atau yang disebut settlement site, yang kini hanya menyisakan puing-puing di area kompleks Candi Arjuna.
Link YouTube : https://youtu.be/hoemsCYKFjU?si=WBKlt96qWTWPvHl6
3. Candi Gedong Songo
Candi Gedong Songo adalah salah satu situs budaya bercorak Hindu yang berlokasi di Desa Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Seperti halnya Candi Dieng, Candi Gedong Songo juga merupakan peninggalan bercorak Hindu yang berada di dataran tinggi sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, tepatnya di lereng Gunung Ungaran.
Ketinggian ini membuat suhu di kawasan Candi Gedong Songo cukup dingin, berkisar antara 19 hingga 27 derajat Celsius. Terdiri dari sembilan candi yang tersebar dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain, Candi Gedong Songo tetap menawarkan keindahan panorama alam yang memukau.
Saat ini, Candi Gedong Songo dilengkapi dengan berbagai objek wisata, seperti pemandian air panas yang berasal dari mata air belerang, area perkemahan, wisata berkuda, dan fasilitas lainnya. Pada tahun 1804, Candi Gedong Songo pertama kali ditemukan oleh Raffles. Candi ini juga termasuk peninggalan budaya Hindu dari masa Wangsa Syailendra pada abad ke-9, sekitar tahun 927 Masehi.
Link YouTube : https://youtu.be/Qq71Qi6iMYw?si=T7Y76wXfdb3MjWA3
4. Candi Pringapus
Candi Pringapus terletak di Temanggung, Jawa Tengah, dan saat ini menjadi salah satu tujuan wisata di wilayah tersebut. Candi ini berada di area dengan lingkungan yang masih terjaga baik, memungkinkan para pengunjung menikmati suasana dan mengabadikan momen saat berada di sana.
Candi Pringapus pertama kali tercatat dalam tulisan FW Junghun pada tahun 1844. Pemugaran terhadap candi ini dilakukan oleh Dinas Purbakala Pemerintah Hindia Belanda (Oudhenkundige Dienst) pada tahun 1929. Dua puluh tahun kemudian, EB Vogler melakukan penelitian mengenai ragam hias candi tersebut. Candi Pringapus memiliki denah berukuran 32x 26 meter dan menghadap ke arah barat. Candi ini diyakini sebagai candi perwara, bagian dari kompleks percandian yang didedikasikan untuk Dewa Siwa.
Link youtube : https://youtu.be/5JdnWD4TMJg?si=MX9JuNxyi4zeOHeX
Selain candi, peninggalan kerajaan Hindu ada juga yang berupa prasasti dan kitab, di antaranya:
1. Prasasti Kutai
Prasasti Kutai merupakan salah satu peninggalan penting dari kerajaan Hindu selanjutnya. Prasasti ini, yang juga dikenal sebagai Prasasti Mulawarman, berasal dari Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Prasasti tersebut pertama kali ditemukan di sekitar hulu Sungai Mahakam, yang merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Kutai. Prasasti merupakan dokumen penting yang mencatat informasi tertentu, biasanya ditulis di atas batu atau logam.
Isi Prasasti Kutai menceritakan tentang Raja Mulawarman yang memberikan sejumlah besar sapi kepada para Brahmana. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Raja Mulawarman adalah putra dari Aswawarman dan cucu dari Kudungga. Bahasa yang digunakan dalam prasasti ini adalah aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta.
Link YouTube : https://youtu.be/tiwn0ZUFI_Q?si=x3uOcx8DqZP8eoQU
2. Prasasti Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang menjadi salah satu prasasti dari tujuh Prasasti Purnawarman. Prasasti ini ditemukan di aliran sungai Ciaruteun (anak sungai Cisadane) Kampung Muara, Bogor pada 1863 oleh N.W. Hoverman. Prasasti Ciaruteun ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta, yang mencerminkan pengaruh budaya India yang signifikan di Nusantara pada masa itu. Prasasti ini juga menunjukkan bahwa masyarakat di daerah tersebut telah mengembangkan sistem penulisan dan komunikasi yang kompleks.
Dalam konteks keagamaan, prasasti ini mencerminkan pengaruh Hindu-Buddha yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat. Cap telapak kaki yang diterangkan sebagai milik Purnawarman melambangkan kekuasaan raja atas daerah yang menjadi tempat ditemukannya prasasti tersebut. Sosok Raja Purnawarman juga dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.
Link YouTube : https://youtu.be/GwFRqRhXiJQ?si=xIqwNC-OlkGGNPx3
3. Kitab Bharatayudha
Kitab Bharatayudha melai diperkenalkan ke Nusantaraseiring dengan masuknya agama Hindu, sekitar abad ke-4 hingga ke-5 Masehi, melalui jalur perdagangan dan penyebaran kebudayaan. Pengaruh India, baik melalui pedagang, brahmana, maupun kerajaan-kerajaan Hindu, membawa serta sastra dan ajaran Hindu, termasuk epik Mahabharata. Setelah masuk ke Nusantara, cerita Mahabharata mengalami penyesuaian dengan budaya lokal. Salah satu bentuk adaptasi yang paling terkenal adalah dalam pertunjukan wayang kulit. Dalam seni pertunjukan ini, tokoh-tokoh dari Mahabharata seperti Arjuna, Yudhistira, Bima, Karna, dan Duryodhana menjadi karakter yang sering muncul dalam berbagai lakon. Cerita-cerita dari Mahabharata, terutama tentang moralitas, kepahlawanan, dan perjuangan hidup, diceritakan melalui wayang kulit yang memiliki kedalaman filosofi dan mengandung banyak ajaran moral.
Peninggalan sejarah berupa prasasti dan artefak juga menunjukkan adanya pengaruh Mahabharata dalam kebudayaan Nusantara. Beberapa prasasti yang ditemukan di Indonesia mencerminkan ajaran moral yang terkandung dalam kitab Bharatayudha, yang mengajarkan tentang keadilan, pengorbanan, dan hubungan antara dharma (kewajiban moral) dengan artha (kemakmuran) dan kama (keinginan).
Dalam konteks agama Hindu, Kitab Bharatayudha berperan penting sebagai salah satu teks sastra epik yang menyampaikan ajaran-ajaran moral, spiritual, dan filsafat Hindu melalui kisah-kisah heroik, pertarungan moral, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dharma (kewajiban), karma (perbuatan), dan moksha (pembebasan spiritual).
Link YouTube : https://youtu.be/HV0W2HlGjF0?si=jNLahISpgq70vidX
4. Kitab Hariwangsa
Kitab Hariwangsa adalah salah satu karya sastra yang berasal dari tradisi Hindu dan merupakan salah satu kitab yang sangat berpengaruh dalam kebudayaan Indonesia. Meskipun Hariwangsa tidak seterkenal Mahabharata atau Ramayana, kitab ini memegang peran penting dalam menyebarkan ajaran-ajaran Hindu, terutama dalam konteks kebudayaan di Nusantara. Kitab Hariwangsa berawal dari India dan sebagian besar kisahnya diambil dari tradisi sastra India kuno. Kitab ini berisi cerita-cerita mitologis yang berkaitan dengan para dewa dan kisah-kisah keturunan mereka. Nama Hariwangsa sendiri merujuk pada silsilah keluarga dari Dewa Wisnu (dalam bahasa Sanskerta “Hari”), yang menggambarkan asal-usul dewa-dewa besar dalam mitologi Hindu dan kisah hidup para tokoh penting dalam sejarah Hindu.
Kitab Hariwangsa dikenal dan mulai dipelajari di Nusantara seiring dengan kedatangan agama Hindu ke Indonesia pada abad ke-4 hingga ke-5 Masehi. Pengaruh besar agama Hindu pada masa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit membawa serta teks-teks epik Hindu, termasuk Hariwangsa. Seperti halnya Mahabharata dan Ramayana, Hariwangsa kemudian berperan dalam mempengaruhi budaya, sastra, dan seni di Indonesia, terutama dalam bentuk wayang kulit, babad, dan naskah-naskah kuno.
Link YouTube : https://youtu.be/oORQr7KqOD8?si=4RVKSi3a9aDboVA1sejarah